Category Archives for Old Memories

Arjunlov

Lagu-lagu Kitaro yang sedang kudengarkan ini mengingatkanku pada seorang sahabat bernickname Arjunlov di jaman kuliah. Dia benar-benar teman yang baik, dan sangat pantas kalau dia punya banyak teman. Berkebalikan dengan diriku yang menganut paham eksklusivisme.

Kami berteman sejak bekerjasama dalam tim pada makrab program studi di awal-awal kuliah. Yah, di masa itu semangatku benar-benar meluap karena siapa sangka aku yang awalnya nggak kepikiran kuliah ini tembus juga ke UGM via UMPTN, atau apalah namanya waktu itu. Tim kami sempat menampilkan drama yang memukau semua peserta makrab, dan dari situlah kuketahui kalau dia eks anak drama di SMA dan juga pengurus OSIS.

Kami punya beberapa kesamaan, salah satunya: lelaki jomblo :D Nggak terlalu peduli pada perempuan dan selalu duduk di deretan depan, segahar apapun dosennya. Haha, we were good friends, sampai suatu saat aku melakukan kesalahan. Eventough people do mistakes, I just couldn’t forgive myself until now. Sejak saat itu sepertinya ada jarak di antara kami. Aku hanya bertemu 1 kali dengannya sejak berangkat ke Papua. Tak banyak yang bisa kukatakan saat itu, walaupun ribuan permintaan maaf ingin kukeluarkan dari mulutku.

Dan sepertinya ia sekarang cukup sukses dengan komunitas momusuindo.net-nya, glad to hear that. Aku minta maaf, dan semoga sukses selalu.
momusu indonesia

Smells Like Teen Spirit


Iseng-iseng muter lagu ini, jadi keinget jaman-jaman SMA. Waktu itu aku jauh lebih urakan dibandingkan sekarang, hehehe.
Lagu-lagu Nirvana punya kenangan yang cukup banyak, mengingat bahwa lagu-lagu itu adalah bahan karya ilmiah semasa kelas 2. Lagu semacam smells like teen spirit di atas, come as you are, the man who sold the world, di jaman itu terlalu sakral untuk tidak dinyanyikan dengan jingkrak-jingkrak sambil triak-triak di siang bolong. Wew.
Buku curhat kelas -di taun-taun segitu buku curhat masih ngetren-, kucoreti dengan mister smiley yang lagi teler. Gambar bulet, dua silang sebagai mata, garis meliuk-liuk sebagai mulut, diakhiri dengan kurva terbuka U untuk menandai lidahnya yang melet. Yay!
Biarpun urakan, tapi nggak pernah ada cerita aku berantem, sebagai akibat dari pendidikan mental a la sekolah Katolik. Baju bebas boleh, rambut gondrong silaken, tapi tak ada ampun untuk siswa yang pukul-pukulan :D
Cuma satu yang kurang: sendal jepit seharusnya jadi barang wajib menggantikan sepatu necis, demi kebersamaan dan menimbulkan kesan merakyat. Ahaha yang ini aku becanda. Teteplah harus pake sepatu, mengingat waktu itu sekolah ngingu kambing, yang ranjaunya tak jarang tersebar hingga ke depan kelas tiap kali si mas penjaga sekolah ketiduran, atau ada siswa yang lupa menutup pagar pembatas lapangan. Okelah, berarti kambing di sini sudah bisa mewakili karakter kerakyatan sekolah kami.

Di antara Nirvana dan kambing terdapat banyak cerita yang sepertinya perlu beberapa jilid untuk diceritakan seluruhnya. Sekian.

Anak-Anak Pewaris Negeri Atas Awan

negeri-awan

Ini adalah cerita tentang anak-anak suku Dani di Kabupaten Puncak Jaya, di kota Mulia tepatnya.
Minus dan Lison, begitu mereka memperkenalkan diri padaku dan teman-temanku yang jadi penghuni baru rumah sewaan. Kedua orang suku asli ini beserta beberapa temannya akan diperbantukan di rumah ini. Diperbantukan. Jadi babu.
Tentu saja bukan keinginanku, karena aku sendiri juga menumpang di rumah ini.
Kami ini rombongan konsultan yang didatangkan dari Jayapura ke kota Mulia ini untuk mengerjakan proyek keuangan daerah. Tentu saja kami diberi sambutan hangat oleh bupati dan kami pun tak perlu memikirkan fasilitas hidup karena telah disediakan.
Continue Reading »