Category Archives for Side Stories

Mari Komplain ke Indosat

Sudah sejak tengah bulan lalu kinerja Matrix 3G-ku menurun drastis. Uring-uringan itu pasti, karena aku sebenarnya sangat membutuhkan koneksi ini untuk mengelola blog-blogku yang bertambah banyak.
Bulan lalu kuotaku sisa 500MB, entah bulan ini sisa berapa, dengan jaringan 3G yang ompong begitu terpaksa cuma menggunakan koneksi GPRS, walau sebenarnya rada ngeri juga kalau pas ngedit skrip secara online.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku pengen mencurahkan kesebalanku ini ke Indosat, tapi ternyata sudah keduluan orang-orang. Infokita-nya Kompas dipenuhi komplain pelanggan Indosat. Huahahaha….
Indosat benar-benar mengecewakan, korporasi begini besar tak mampu menyediakan servis yang dijanjikan, sudah begitu billing tetap flat, jalan terus.
Sama sekali nggak ada rasa bersalah ya. Mana social responsibility-nya? Mana profesionalitasnya? MANA PELAYANAN PRIMANYA?

Pengen beralih ke smart yang super kenceng itu, tapi mau gimana lagi, target penghematan harus tetap jalan.

Cari Uang Itu Susah

Cari uang itu susah. Susahnya cari uang, harus banting tulang dari pagi sampai malam, nggak pernah lagi kena sinar matahari.
Sigh…. sekedar melepas penat sebelum turun ke lapangan pagi nanti. Masih terbayang kegagalan aksi di lapangan yang terakhir bulan lalu. Betapa berisikonya pekerjaanku, dan ini bikin aku iri pada teman-teman yang ada di kantor-kantor biasa. Gaji sama, banyak waktu nganggur, bisa tidur siang, selalu tenggo, uargh!
Di sini aku masih harus mengeluarkan usaha yang 3 kali lipat dibanding ketika aku di kantor daerah demi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tampak sepele -namun bertele-tele- ini. And no one recognizes my work yet! What a frustrating job.

Setidaknya aku masih dapat gaji rutin, walau belakangan ini pengeluaran sedikit tak terkendali. Heran, kenapa pengeluaran tersier yang tak sebegitu perlu itu ternyata menyedot separuh gajiku, dan pada akhirnya yang harus dikorbankan adalah uang makan. Jih, ternyata aku harus kembali ke mi instan demi menghemat beberapa lembar rupiah. Jangan ada yang melarang, jangan ada yang protes! Ini hakku, aku berhak menabung uangku sendiri. D*mn!

-sekedar frustrasi sebelum turun ke lapangan-

Freska’s Viva La Vida

Topik terakhir yang jadi inspirasi adalah viva la vida. Aku baru tahu kalau judul lagu milik Coldplay ini juga merupakan judul sebuah lukisan yang sekarang dipajang di Louvre.
Viva la vida versi lagu dan versi lukisan, kedua-duanya merupakan masterpiece

viva la vida

Freska’s Eiffel Tower

Tiap orang nggak akan melewatkan Eiffel Tower sebagai persinggahan wajib para pelancong.

eiffel tower

Freska’s Angels and Demons

Selain ke louvre, Perancis, konon kabarnya Freska juga mampir ke Roma, Italia (ke Turin juga nggak Frez?) dan sempat mengambil imej beberapa situs yang masuk dalam film Angels and Demons yang cerita aslinya dikarang oleh Dan Brown.

Kalau nggak salah ini patung malaikat terakhir tempat pengikut illuminati biasa berkumpul.
illuminati castle

Yang ini gereja kembar, ada juga di salah satu adegan Angels and Demons.
gereja kembar

Freska’s Louvre

Sejak menonton film The DaVinci Code, aku amat ingin melihat louvre, sebuah museum di Perancis sana. Gara-garanya adalah sebuah artefak yang diduga menjadi makam Maria Magdalena. Hmm, terlepas benar tidaknya cerita itu, setidaknya mampu membangkitkan hasratku untuk sekolah lagi. Tamat S1 di sekolah lokal bukan lagi hal yang istimewa, dan memang kurasa belum cukup mengobati penyakit ingin-tahu-akut-parahku :D

Beruntung ada Freska, teman sesama coder sekaligus mentor PHP-ku (walau sampai sekarang aku belum mampu membuat website PHP from scratch :D ) yang mendapat beasiswa ke yurop sana, Jerman tepatnya. Dan suatu kali ia melakukan perjalanan legendaris, dan mengirimkan beberapa berkas sebagai oleh-oleh.

Atas seijin Freska, kupublikasikan foto-foto ini. All credit goes to her.
louvre

louvre

louvre

louvre

louvre

louvre

louvre

MP3 Player Merek SUN

mp3 player merek sunMP3 Player ini kubeli tahun 2004, waktu itu seharga 400-an ribu rupiah, kubayar dengan beasiswa yang kudapat waktu itu. Beasiswa yang nominalnya cuma bisa buat makan seminggu setengah perbulan, padahal waktu itu aku sangat butuh uang.

Okay, sekarang apa yang istimewa dari MP3 player ini? Tentu saja umurnya yang sudah 6 tahun di 2010 ini. Padahal mp3 player jenis begini nggak banyak yang tahan lama. Aku setia dengan barang ini, karena selain barang ini telah menemaniku selama kuliah dan selama “pembuangan” di Papua, mp3 player ini juga berfungsi sebagai flashdisk yang memiliki fitur write-lock di hardware-nya. Alhasil, inilah salah satu piranti utamaku dalam membasmi virus. Sekarang ini flashdisk sangat murah harganya, namun yang punya fasilitas write-lock tak mudah dicari. Pernah satu waktu aku nyusuri gerai demi gerai di pameran komputer, hanya ada 1 toko yang punya, itu pun barangnya ada di tokonya yang jauh minta ampun.

Kemarin waktu di Surabaya aku sempat membeli baterai AAA rechargeable (yang harganya 70ribu sepasang, wow mahalnya), namun betapa kagetnya, si mp3 player tak menyala. Aku tak tahu status barang ini karena beberapa bulan ini jarang kupakai mengingat aku tak lagi melakukan perjalanan jauh. Dua hari yang lalu kucoba lagi tetap tak bisa, dan akhirnya hari ini si mp3 player seperti bangun dari tidurnya dan menyalak lagi. Woof!

Trip To Soerabaja : Night Flight

[dimaz.web.id] Kali ini aku mendapat tugas beberapa hari ke Surabaya. Kesempatan pertama kali nih.
Berangkat jam 8 malam via udara, inilah pertama kali aku terbang malam. Pemandangan ke bawah luar biasa, seperti kita memandang bintang-bintang. Efek kelip-kelip lampu juga terasa loh. Tapi aku sadar kalau hp-ku bakalan dapat gambar yang buruk dengan pencahayaan yang minimum, jadi sama sekali tak kuambil fotonya.

Terbang dengan Garuda cukup menghibur :)
Nah, kabinnya cukup canggih. Petunjuk safety yang biasanya diperagakan pramugari, sekarang ditampilkan dalam bentuk video. Pun dalam perjalanan, diputarkan video-video lucu, dan sepertinya di kursi tersedia beberapa channel musik, walau sayangnya tak dapat kucoba karena headset ada di tas.
kabin

Sayangnya aku tak terlalu doyan sandwich yang diberikan. Tunanya asin T_T
roti

Fakir Bandwidth

[dimaz.web.id] Tanggal 31 Januari 2010. Koneksi internet amat lambat, sepertinya telah melampaui kuota yang sebesar 2GB itu. Sebenarnya downloaded data baru 1,9 GB, tapi kalau dijumlah dengan uploaded data yang 270-an MB itu jadi total lebih dari 2GB. Sengaja bulan ini kuoverquota, untuk membuktikan bahwa Matrix 3G punya kuota segitu dan kalau lebih bakal turun speed-nya.

Aku Tak Ingin Menjadi Insan Biasa

Aku tidak memilih menjadi insan biasa

Adalah sepenggal puisi yang pertama kali kudengar di SMP tahun kedua, dan masih mengendap di otak hingga kini. Bruder Dwi, kalau tidak salah, beliau yang menyuruh kami membacanya keras-keras, diulang, dan diulang hingga kami muridnya meresapi betul tiap kalimat yang kami ucapkan.
Ternyata cara ini ampuh juga.

Ketika ideku mandek, seperti sekarang ini, kalimat yang kublok di atas kembali terngiang di otakku. Dan setelah googling sebentar, ketemulah puisi lengkapnya, kukopi dari sini.

Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan.

by Den Alfange

Hidup ini cuma sekali, percuma kalo ngerjain sesuatu setengah-setengah. Begitu ucapan atasanku sekali waktu. Kalau di satu bidang usaha udah penuh, pindah ke bidang lain yang lebih sepi. Gak papa belajar dari nol, tapi harus jadi nomor satu, ucap beliau di lain kesempatan.

Yah, tampaknya aku masih harus merenungi intisari kehidupan.