Category Archives for Brainstorming

Aku Tak Ingin Menjadi Insan Biasa

Aku tidak memilih menjadi insan biasa

Adalah sepenggal puisi yang pertama kali kudengar di SMP tahun kedua, dan masih mengendap di otak hingga kini. Bruder Dwi, kalau tidak salah, beliau yang menyuruh kami membacanya keras-keras, diulang, dan diulang hingga kami muridnya meresapi betul tiap kalimat yang kami ucapkan.
Ternyata cara ini ampuh juga.

Ketika ideku mandek, seperti sekarang ini, kalimat yang kublok di atas kembali terngiang di otakku. Dan setelah googling sebentar, ketemulah puisi lengkapnya, kukopi dari sini.

Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan.

by Den Alfange

Hidup ini cuma sekali, percuma kalo ngerjain sesuatu setengah-setengah. Begitu ucapan atasanku sekali waktu. Kalau di satu bidang usaha udah penuh, pindah ke bidang lain yang lebih sepi. Gak papa belajar dari nol, tapi harus jadi nomor satu, ucap beliau di lain kesempatan.

Yah, tampaknya aku masih harus merenungi intisari kehidupan.

Menengok Perilaku Pengguna Internet Awam Indonesia

Jam 5 pagi, tampaknya aku bangun kepagian. Langsung memonitor tlogosari.net yang dalam tahap maintenance, aku tercengang dengan lambatnya akses ke halaman utama karena situs penyedia iklan yang kupasang ternyata sedang down. Olala.
Tengok fesbuk ada inbox masuk dari kawan lama tentang reuni SMA yang sebentar lagi akan digelar, ideku terus berjalan menuju Google insight yang masih memajang facebook di peringkat satu keyword yang paling dicari di seantero tanah air.

Maseko.com
ternyata mampu menempatkan salah satu tautan tentang facebook, yakni di sini. Ada 160 response yang ditulis pengunjung di laman ini. Wow!
Tapi aku sedikit tersenyum ketika membaca response-response yang ditulis, dari atas memang bagus, tetapi yang di bawah-bawah kacau!
Continue Reading »

Suddenly Feeling Lonely

Judulnya cuma buat keren-kerenan…

James Blunt
Carry You Home lyrics

Trouble is her only friend and he’s back again.
Makes her body older than it really is.
She says it’s high time she went away,
No one’s got much to say in this town.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
If she had wings she would fly away,
And another day God will give her some.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
And they were all born pretty in New York City tonight,
And someone’s little girl was taken from the world tonight,
Under the Stars and Stripes.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.

Tiba-tiba aku mendengar lagu milik si James Blunt yang sendu ini, dari folder yang kuberi nama singles.
Tentang kesepian, tentang keputusasaan, tentang kematian.

Aku berada di kota gudeg Yogyakarta. Demi menuntut ilmu dalam keadaan yang serba terjepit, tak dapat dihindari perasaan ngilu itu merasuk ke sukma. Ketika tak ada yang bisa diandalkan, menyerah, dan biasanya aku dolan ke kamar sebelah. Ke kamar opa, Mikhael Fallo.
Tak akan pernah sepi dari jamuan, setidaknya secangkir kecil kopi hitam menemani kami berdua yang memang terasing dari hingar bingar kota pelajar. Hanya beberapa topik untuk dibicarakan, sisanya kami termenung dengan lamunan masing-masing sambil menikmati lagu-lagu dari radio Sonora.
Sementara dia merenungi skripsi yang tampaknya tak akan bisa selesai, diriku meratap pada kegagalan besarku saat ujian kelulusan.

Tiga tahun kemudian, dari sekian banyak kegagalan, akhirnya inilah aku, orang kampung yang (lagi-lagi) merantau, kali ini ke ibukota. Pun demikian, sama seperti tiga-empat tahun lalu, aku ingin dolan ke kamar sebelah dan menyeruput segelas kopi hitam, demi sedikit saja bernafas lepas.
Namun sayang, opa tak ada di sini. Entah di mana dia. Sementara aku dengan (lagi-lagi) kesepianku yang makin lama makin berat, seiring malam yang semakin pekat.

Sementara orang sibuk dengan tiket bioskop dan makan malam, diriku mencoba memeras otakku, barangkali ada yang masih bisa dipakai demi karya berikutnya. Demi legacy. Demi diriku sendiri untuk diakui.
Demi melarikan diri dari segala tanggungjawab akibat segala yang kuketahui. Demi mencari pembenaran atas segala pencarian jawaban atas segala pertanyaan.
Demi apa?

Barangkali opa bisa memberikan pendapatnya, yang selalu diakhiri dengan “atau bagaimana?”
Atau bagaimana jika aku berpura-pura menjadi orang lain? Atau bagaimana jika aku berpura-pura tidak peduli?
Atau bagaimana jika aku mati saja? Tidak, aku tak sepemberani itu.
Atau seharusnya aku menjawab: Tidak, aku tak sepengecut itu.

Entahlah.

Are you afraid to die?

Yes, I am….

Pagi ini, 40 menit yang lalu, aku diingatkan kembali betapa ringkihnya kehidupan.
Tepat di depanku terjadi kecelakaan motor yang mengakibatkan pengemudinya terjatuh. Sementara orang-orang berdatangan menolongnya, tubuhku tak mampu bergerak. Tertegun melihat kejadian demi kejadian.

Dan baru saja temanku mengabarkan bahwa si bapak telah meninggal dunia, menunggu ambulans menjemput jenazahnya yang terbaring kaku di trotoar jalan Gatot Subroto, Jakarta.


Butuh waktu 7 jam bagiku untuk menyelesaikan posting ini sebelum akhirnya kupublikasikan.

All for one, one for all.

Kalimat di atas adalah kata kunci yang harus diterjemahkan oleh Elric Bersaudara sebelum mereka diajari ilmu alkimia oleh gurunya dalam cerita FullMetal Alchemist.

Lahir, hidup, dan akhirnya mati, terurai kembali menjadi tanah, adalah siklus kehidupan yang harus dijalani tiap manusia. Kita tak bisa memundurkan waktu ataupun menghentikannya sedetikpun. Hidup harus terus berjalan.

Target Market para PoliTIKUS

Gonjang-ganjing seputar politik belakangan ini ternyata mampu menyita sebagian sumber dayaku. Bagaimana tidak, topik cicak – buaya dan tetek bengeknya hampir tiap jam dibahas oleh orang-orang di sekitarku, seolah tak ada habisnya.

Aku secara pribadi sih memilih sisi netral. Terkadang yang terlihat salah belum tentu salah, dan yang terlihat benar belum tentu benar. Dan takaran kebenaran pun terkadang tak mampu didefinisikan secara pasti.
Mirisnya, di tengah keadaan yang abu-abu ini, media dan orang-orang yang berlabel pengamat politik memanfaatkan keadaan untuk menyerang pihak lain. Bahkan segala hal yang sebenarnya tidak berhubungan, di-othak-athik-gathuk supaya pas dipakai jadi bahan cercaan. Media dan politikus sedang gemar mencerca, bercerita, membentuk opini masyarakat bahwa si itu salah, si itu benar, si dia plinplan, si anu harus mundur, de el el. Dengan begitu, permasalahan pembuktian kebenaran pun semakin kabur. Media berkuasa.

Kalau ada penguasa tentunya ada yang dikuasai. Siapa? Kita! Masyarakat pada umumnya, yang secara umum memiliki kepercayaan absolut bahwa berita di koran dan televisi itu benar adanya. Oh, kitalah target pasar mereka. Kitalah yang rela berjam-jam menunggu berita sampah mereka, demi menambah tingkat kekhawatiran kita dengan informasi negatif (dan sepertinya selalu negatif). Belum lagi pemegang pakar politik yang menikmati keadaan ini karena kemampuan mencelanya banyak dibeli koran dan acara televisi.

Aku jadi teringat potongan lagu Switchfoot yang berjudul Lonely Nation

we Are The Target Market, We Set The Corporate Target
we Are Slaves Of What We Want
we’re Just Not Amused And, We’re Just Used To Bad News
we Are Slaves Of What We Want

Sah-sah saja kita menjadi penikmat berita, tetapi menjatuhkan vonis bersalah pada tersangka sebelum peradilan digelar bukanlah sesuatu yang bijak.
====

24

Switchfoot – 24

Twenty four oceans
Twenty four skies
Twenty four failures
Twenty four tries
Twenty four finds me
In twenty-fourth place
Twenty four drop outs
At the end of the day
Life is not what I thought it was
Twenty four hours ago

Still I’m singing Spirit take me up in arms with You
And I’m not who I thought I was twenty four hours ago
Still I’m singing Spirit take me up in arms with You

Twenty four reasons to admit that I’m wrong
With all my excuses still twenty four strong

See I’m not copping out not copping out not copping out
When You’re raising the dead in me
Oh, oh I am the second man
Oh, oh I am the second man now
Oh, oh I am the second man now

And You’re raising these twenty four voices
With twenty four hearts
With all of my symphonies
In twenty four parts
But I wan to be one today
Centered and true

I’m singing Spirit take me up in arms with You
You’re raising the dead in me
Oh, oh I am the second man
Oh, oh I am the second man now
Oh, oh I am the second man now
And You’re raising the dead in me

I want to see miracles, see the world change
Wrestled the angel, for more than a name
For more than a feeling
For more than a cause
I’m singing Spirit take me up in arms with You
And You’re raising the dead in me
Twenty four voices
With twenty four hearts
With all of my symphonies
In twenty four parts.
I’m not copping out. Not copping out. Not copping out.

Menurut ceritanya, Jon Foreman sang vokalis Switchfoot menciptakan lagu ini sehari sebelum ia berulangtahun ke-24.
Continue Reading »

Me At The Matrix


Seperti inilah yang tergambar dalam kepalaku ketika aku memandang dunia.
Hehehe…

Logis saja kalau kita menganggap bahwa dunia ini hanyalah lautan data. Kita merasa hidup karena tubuh kita memiliki sensor terhadap informasi dari luar tubuh, dan kita mampu merespon karena memiliki prosesor informasi, yakni otak.
Bukti tentang dunia sebagai lautan data adalah kenyataan bahwa kita bisa meretas aliran data yang masuk ke otak kita, dengan hipnotis misalnya. Data yang tak terolah dengan sempurna juga banyak ditemukan, misalnya dalam permainan ilusi mata.

Barangkali setelah menonton film The Matrix ada orang yang bertanya-tanya, jangan-jangan kita memang hidup dalam The Matrix. Yea, bisa jadi :D

Kentalnya SARA di Bangsa Ini

bhinneka tunggal ika

Indonesia seharusnya merupakan bangsa yang berbeda-beda namun tetap satu jua, seperti yang tercermin dalam frasa di atas, yang terdapat dalam lambang negara.
Tetapi tak dapat dipungkiri kenyataan bahwa manusia Indonesia tak semuanya mampu menerima perbedaan, tak mampu menerima orang lain yang berbeda dari dirinya. Pendapat sempitnya barangkali selalu mampu meyakinkannya bahwa dirinya dan seluruh atribut miliknyalah yang paling benar, sedang yang lain patut dilabeli sesat.
Continue Reading »

Get Married

Masih bertopik nikah. Bukan aku, tapi teman baikku semasa SMA.
Membuatku berpikir, apa yang mendorong orang menikah.

Mendapat keturunan, tentu saja. Dan ini termasuk juga seks dan kawan-kawannya, tak akan dibahas di sini.
Yang lain? Ada satu kalimat dari sebuah film.

…kita menikah, karena kita membutuhkan saksi. saksi bahwa kita pernah hidup di dunia ini…

Lantas ada juga gambaran pernikahan dari sebuah game, kalau nggak salah Xenogears, di situ ada patung dua makhluk seperti manusia yang saling menopang, pada punggung masing-masing terdapat sebuah sayap. Dengan saling menopang, mereka akhirnya bisa terbang.

Alasan yang bisa kupikirkan adalah, bahwa manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk sosial, selalu membutuhkan sesamanya setiap saat. Ketika teman-teman lama pergi dan teman-teman baru juga menghilang, pada akhirnya kita masih memiliki setidaknya 1 teman setia: pasangan kita. Mungkin dari sini muncul istilah teman hidup.

Hmm… bisa jadi :D

Serutan Aspal A La Kendal

kalau es enak diserut, kalau aspal?

Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini. Entah siapa yang dapat ku-refer dengan istilah “orang-orang ini” dalam kalimat sebelum ini. Pasalnya, seruas jalan di Kendal terserut. Itu lho, bergaris-garis kayak habis digaruk pake garpu. Garpu raksasa pastinya :D
Nggak tanggung-tanggung, ruas jalan yang terserut ini cukup panjang. Pada mulanya ada 1 ruas sepanjang sekitar 2 km, diukur dengan speedometer shogun standar. Nah, belum selesai serutan ini ditambal, muncul lagi serutan lain di ruas jalan berikutnya, tak jauh dari ruas pertama yang berada dekat dengan pabrik gula Cepiring.
Continue Reading »