Category Archives for Brainstorming

Fuzzy-isme

[butuh 10 menit bagiku mengingat kata ini, fuzzy, yang pernah jadi matakuliah di kampus. sigh, pengaruh umur barangkali :D ]

Fuzzy, logika fuzzy, sering disebut juga dengan logika samar. Kenapa samar? Karena pada umumnya logika pada komputer itu hanya 0 atau 1, true atau false, benar atau salah. Sedangkan pada fuzzy, kita bisa memasukkan nilai di antara 0 dan 1, di antara true dan false, di antara benar dan salah. Setengah salah setengah benar, samar, tidak persis. Waktu itu Pak Anif dosenku mencontohkan logika fuzzy bisa diterapkan untuk menentukan tingkat kekotoran air bekas cucian baju dalam mesin cuci.
Continue Reading »

Rajam

Kemarin kebetulan aku membaca sebuah artikel di kompas.com, judulnya torture porn controversy.
Inti ceritanya adalah tentang film The Stoning of Soraya M. Stoning di sini artinya perajaman, hukuman dilempari batu sampai mati. Tragis, film ini diangkat dari cerita nyata di Iran sana, dengan tokohnya bernama Soraya Manutchehri. Ia mati dirajam tahun 1986 atas tuduhan perzinahan.
Continue Reading »

Incoming search terms for the article:

Menimbang Renumerasi Kementerian Keuangan

[dimaz.web.id]
Renumerasi, satu hari ini jadi trending topic di kantorku. Alasannya, DPR akan merekomendasikan dihapuskannya renumerasi di kementerian keuangan karena dianggap suatu kegagalan, dianggap korupsi masih saja terjadi walaupun reformasi plus renumerasi telah diberlakukan.
Jadi, mungkin renumerasi diluncurkan agar orang tidak korupsi. Begitu?
Continue Reading »

Selamat Hari Kartini

Selamat hari Kartini, 21 April.

Hari Kartini biasa diidentikkan dengan gerakan emansipasi wanita. Sejak SD aku diajar bahwa dahulu wanita dijajah pria, bla bla bla, dan seorang tokoh wanita mencetuskan gerakan emansipasi bagi wanita Indonesia agar punya kedudukan yang setara dengan pria. Dialah Kartini.

Emansipasi. Kata yang dulu kuanggap 100% murni baik, sekarang-sekarang ini kembali kupertanyakan. Ini maksudnya setara dalam kapasitas apa? Sebuah artikel opini di kompas tertulis begini.

Menurut Septiana, Hari Kartini merupakan saat dimulainya kesadaran bahwa seorang perempuan tidak hanya cuma berdiam diri saja dan berserah pada keadaan. Berkat perjuangan Kartini, kini perempuan banyak yang mengenyam pendidikan setara dengan pria.

Selain itu, perempuan juga banyak yang bekerja. “Ada emansipasi, wanita lebih banyak bekerja, modern, independen. Nggak zaman dijajah pria lagi. Zamannya menjajah pria,” tuturnya sambil tertawa.

Dia mengaku terakhir merayakan Hari Kartini saat masih duduk di bangku SD. Saat itu, dia harus berdandan rapi mengenakan pakaian daerah saat berangkat sekolah. Kendati repot, dia mengaku bagga bisa mengenakan pakaian daerah. “Ribet kan ya. Tetapi saya bangga,” ujarnya.

Deri (19), mahasiswi Atmajaya mengatakan hal yang sama. Menurutya, Hari Kartini dimaknai sebagai kebebasan kaum wanita dari pria. “Kita nggak harus di dapur lagi. Sekarang bebas kerja,” kata Deri.

Tentang kesetaraan hak dan kewajiban oke, termasuk di dalamnya hak mengenyam pendidikan. Tapi menurutku masih ada hal-hal yang debatable. “Kita nggak harus di dapur lagi. Sekarang bebas kerja“. Lho, memangnya di dapur itu sebuah perendahan harga diri wanita? Atau para wanita saja yang terlalu sensi pada pekerjaan berkotor-kotor di dapur? Ataukah segala pekerjaan tanpa menonjolkan diri adalah rendah?
Lalu bagaimana dengan mengurus anak kalau semua wanita bekerja? Ini yang masih belum dapat kupecahkan. Bagaimana mungkin seorang anak tumbuh hanya diasuh oleh baby sitter? Okelah barangkali si ibu masih menemaninya bermain barang satu dua jam. Tapi apa itu cukup? Mengingat bahwa masa kecil anak tak dapat diulang, terjadi sekali seumur hidup, dan merupakan waktu-waktu krusial bagi si anak dalam menapak masa depannya, ke mana si ibu? Apakah demi harta atau kehormatan lantas mengorbankan anak?

Segala hal yang ingin kita capai selalu menuntut pengorbanan, itu adalah hukum ekual, atau equal trade yang berlaku universal. Lantas apa yang akan kau korbankan demi “sejajar” dengan pria, wahai wanita?

Habis Manis Sepah Dibuang. Manis Lagi, Dikunyah Lagi

susno duadji

Lucu, dan ini benar-benar terjadi.

Aku masih ingat dengan jelas perkara cicak-buaya tak sampai setahun yang lalu. Ketika itu Susno Duadji jadi pesakitan, yang akhirnya harus dicopot dari jabatannya sebagai kabareskrim mabes polri.
Lha, sangking terkenalnya, fesbuker yang terkenal suka nonton inpotenmen dan latah itu kan kalo nggak salah bikin grup cicak versus buaya -dengan tentu saja banyak dibumbui makian pada Susno-. Cicak itu grup dukung KPK, sedang buaya itu diasosiasikan ke polisi. KPK versus polisi, cicak versus buaya, konflik itu dimulai oleh pernyataan Susno. Ya, Susno waktu itu sempat jadi public enemy number one.

Sekarang kok kebalik. Tuh ada lagi grup sejuta umat dukung susno jadi presiden. My my my… latah akut parah!
Mbok ya nyadar, sampeyan itu dulunya sukak ngece Susno, nyumpah nyerapah di mana-mana. Sekarang kok ndukung pakek kata-kata pujian lagi. Nggak salah sih, tapi muna. Kayak idu yang dijilat lagi. Kayak sepah yang dibuang terus dikunyah lagi. Kayak sampah yang didaur ulang, lho eh salah.
Nek nggak tau mending diem deh, daripada nanti sampeyan saya unekke muna lagi lho.
cicak versus buaya

Yo wislah, saya mau mandi terus kerja di kantor Gayus biar dapat gaji 12 juta sebulan. Duabelas juta sebulan gundulmu!

(sorry for being cynical)

Aku Tak Ingin Menjadi Insan Biasa

Aku tidak memilih menjadi insan biasa

Adalah sepenggal puisi yang pertama kali kudengar di SMP tahun kedua, dan masih mengendap di otak hingga kini. Bruder Dwi, kalau tidak salah, beliau yang menyuruh kami membacanya keras-keras, diulang, dan diulang hingga kami muridnya meresapi betul tiap kalimat yang kami ucapkan.
Ternyata cara ini ampuh juga.

Ketika ideku mandek, seperti sekarang ini, kalimat yang kublok di atas kembali terngiang di otakku. Dan setelah googling sebentar, ketemulah puisi lengkapnya, kukopi dari sini.

Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
“Ini telah kulakukan!”
segalanya ini memberikan makna seorang insan.

by Den Alfange

Hidup ini cuma sekali, percuma kalo ngerjain sesuatu setengah-setengah. Begitu ucapan atasanku sekali waktu. Kalau di satu bidang usaha udah penuh, pindah ke bidang lain yang lebih sepi. Gak papa belajar dari nol, tapi harus jadi nomor satu, ucap beliau di lain kesempatan.

Yah, tampaknya aku masih harus merenungi intisari kehidupan.

Menengok Perilaku Pengguna Internet Awam Indonesia

Jam 5 pagi, tampaknya aku bangun kepagian. Langsung memonitor tlogosari.net yang dalam tahap maintenance, aku tercengang dengan lambatnya akses ke halaman utama karena situs penyedia iklan yang kupasang ternyata sedang down. Olala.
Tengok fesbuk ada inbox masuk dari kawan lama tentang reuni SMA yang sebentar lagi akan digelar, ideku terus berjalan menuju Google insight yang masih memajang facebook di peringkat satu keyword yang paling dicari di seantero tanah air.

Maseko.com
ternyata mampu menempatkan salah satu tautan tentang facebook, yakni di sini. Ada 160 response yang ditulis pengunjung di laman ini. Wow!
Tapi aku sedikit tersenyum ketika membaca response-response yang ditulis, dari atas memang bagus, tetapi yang di bawah-bawah kacau!
Continue Reading »

Suddenly Feeling Lonely

Judulnya cuma buat keren-kerenan…

James Blunt
Carry You Home lyrics

Trouble is her only friend and he’s back again.
Makes her body older than it really is.
She says it’s high time she went away,
No one’s got much to say in this town.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
If she had wings she would fly away,
And another day God will give her some.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
And they were all born pretty in New York City tonight,
And someone’s little girl was taken from the world tonight,
Under the Stars and Stripes.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.

Tiba-tiba aku mendengar lagu milik si James Blunt yang sendu ini, dari folder yang kuberi nama singles.
Tentang kesepian, tentang keputusasaan, tentang kematian.

Aku berada di kota gudeg Yogyakarta. Demi menuntut ilmu dalam keadaan yang serba terjepit, tak dapat dihindari perasaan ngilu itu merasuk ke sukma. Ketika tak ada yang bisa diandalkan, menyerah, dan biasanya aku dolan ke kamar sebelah. Ke kamar opa, Mikhael Fallo.
Tak akan pernah sepi dari jamuan, setidaknya secangkir kecil kopi hitam menemani kami berdua yang memang terasing dari hingar bingar kota pelajar. Hanya beberapa topik untuk dibicarakan, sisanya kami termenung dengan lamunan masing-masing sambil menikmati lagu-lagu dari radio Sonora.
Sementara dia merenungi skripsi yang tampaknya tak akan bisa selesai, diriku meratap pada kegagalan besarku saat ujian kelulusan.

Tiga tahun kemudian, dari sekian banyak kegagalan, akhirnya inilah aku, orang kampung yang (lagi-lagi) merantau, kali ini ke ibukota. Pun demikian, sama seperti tiga-empat tahun lalu, aku ingin dolan ke kamar sebelah dan menyeruput segelas kopi hitam, demi sedikit saja bernafas lepas.
Namun sayang, opa tak ada di sini. Entah di mana dia. Sementara aku dengan (lagi-lagi) kesepianku yang makin lama makin berat, seiring malam yang semakin pekat.

Sementara orang sibuk dengan tiket bioskop dan makan malam, diriku mencoba memeras otakku, barangkali ada yang masih bisa dipakai demi karya berikutnya. Demi legacy. Demi diriku sendiri untuk diakui.
Demi melarikan diri dari segala tanggungjawab akibat segala yang kuketahui. Demi mencari pembenaran atas segala pencarian jawaban atas segala pertanyaan.
Demi apa?

Barangkali opa bisa memberikan pendapatnya, yang selalu diakhiri dengan “atau bagaimana?”
Atau bagaimana jika aku berpura-pura menjadi orang lain? Atau bagaimana jika aku berpura-pura tidak peduli?
Atau bagaimana jika aku mati saja? Tidak, aku tak sepemberani itu.
Atau seharusnya aku menjawab: Tidak, aku tak sepengecut itu.

Entahlah.

Are you afraid to die?

Yes, I am….

Pagi ini, 40 menit yang lalu, aku diingatkan kembali betapa ringkihnya kehidupan.
Tepat di depanku terjadi kecelakaan motor yang mengakibatkan pengemudinya terjatuh. Sementara orang-orang berdatangan menolongnya, tubuhku tak mampu bergerak. Tertegun melihat kejadian demi kejadian.

Dan baru saja temanku mengabarkan bahwa si bapak telah meninggal dunia, menunggu ambulans menjemput jenazahnya yang terbaring kaku di trotoar jalan Gatot Subroto, Jakarta.


Butuh waktu 7 jam bagiku untuk menyelesaikan posting ini sebelum akhirnya kupublikasikan.

All for one, one for all.

Kalimat di atas adalah kata kunci yang harus diterjemahkan oleh Elric Bersaudara sebelum mereka diajari ilmu alkimia oleh gurunya dalam cerita FullMetal Alchemist.

Lahir, hidup, dan akhirnya mati, terurai kembali menjadi tanah, adalah siklus kehidupan yang harus dijalani tiap manusia. Kita tak bisa memundurkan waktu ataupun menghentikannya sedetikpun. Hidup harus terus berjalan.

Target Market para PoliTIKUS

Gonjang-ganjing seputar politik belakangan ini ternyata mampu menyita sebagian sumber dayaku. Bagaimana tidak, topik cicak – buaya dan tetek bengeknya hampir tiap jam dibahas oleh orang-orang di sekitarku, seolah tak ada habisnya.

Aku secara pribadi sih memilih sisi netral. Terkadang yang terlihat salah belum tentu salah, dan yang terlihat benar belum tentu benar. Dan takaran kebenaran pun terkadang tak mampu didefinisikan secara pasti.
Mirisnya, di tengah keadaan yang abu-abu ini, media dan orang-orang yang berlabel pengamat politik memanfaatkan keadaan untuk menyerang pihak lain. Bahkan segala hal yang sebenarnya tidak berhubungan, di-othak-athik-gathuk supaya pas dipakai jadi bahan cercaan. Media dan politikus sedang gemar mencerca, bercerita, membentuk opini masyarakat bahwa si itu salah, si itu benar, si dia plinplan, si anu harus mundur, de el el. Dengan begitu, permasalahan pembuktian kebenaran pun semakin kabur. Media berkuasa.

Kalau ada penguasa tentunya ada yang dikuasai. Siapa? Kita! Masyarakat pada umumnya, yang secara umum memiliki kepercayaan absolut bahwa berita di koran dan televisi itu benar adanya. Oh, kitalah target pasar mereka. Kitalah yang rela berjam-jam menunggu berita sampah mereka, demi menambah tingkat kekhawatiran kita dengan informasi negatif (dan sepertinya selalu negatif). Belum lagi pemegang pakar politik yang menikmati keadaan ini karena kemampuan mencelanya banyak dibeli koran dan acara televisi.

Aku jadi teringat potongan lagu Switchfoot yang berjudul Lonely Nation

we Are The Target Market, We Set The Corporate Target
we Are Slaves Of What We Want
we’re Just Not Amused And, We’re Just Used To Bad News
we Are Slaves Of What We Want

Sah-sah saja kita menjadi penikmat berita, tetapi menjatuhkan vonis bersalah pada tersangka sebelum peradilan digelar bukanlah sesuatu yang bijak.
====