Kantor pajak, belakangan ini jadi topik favorit industri media. Entah itu dikaitkan dengan salah satu anak emasnya, Gayus Tambunan, atau yang baru-baru ini mencuat kembali, perseteruannya dengan PT KPC, maupun acara bantah-bantahannya dengan DPR. Pokoknya kalau lewat gedung yang kalau malam bak istana bermahkota cahaya biru itu, orang mesti menengok barang sebentar.
Mega Kuningan, tentu saja tak pernah hilang dari ingatan kita bahwa daerah ini nyaris selalu jadi target utama teroris yang suka ngebom itu. JW Marriott dan Ritz Carlton adalah 2 hotel mewah yang nongkrong di daerah ini, selain banyak gedung pencakar langit mewah lainnya.
Kedua daerah di atas, kantor pajak dan mega kuningan, adalah daerah yang mewah. Amat mewah. Namun di antaranya ada sebuah daerah yang terlupakan.
Tepat di belakang Menara Global, terus ke belakang sebelum mencapai mega kuningan, adalah rumah-rumah sederhana. Memang ada beberapa rumah mewah, tapi itu untuk disewakan. Kita bisa dengan mudah membedakan mana rumah penduduk dan mana rumah yang bukan. Sedikit masuk ke dalam, itulah wilayah kosku.
Continue Reading »
Written on 30 May 2010
by admin under
Brainstorming
with
Tagged with banjir, catastrophe, DPR, gayus tambunan, Indonesia, Jakarta, jw marriott, kaltim prima coal, kantor pajak, kapitalisme, kos, kos-kosan, kpc, kuningan, mega kuningan, menara global, miskin, negara, pak abu, penyakit, proletar, remote area, ritz carlton, soeharto, suharto, utopia

Terdapat perbedaan yang amat kontras antara kompleks perkantoran dengan perkampungan yang sejatinya bertetangga. Sementara si perkantoran mampu bersolek dengan indahnya, lain halnya dengan si perkampungan yang serba seadanya: sempit, kumuh, dan selalu kebanjiran.
Pertanyaannya: ke mana kapital sebesar itu pergi?
Hari Jumat kemarin kebetulan muncul keisenganku untuk sejenak mengamati lalulintas di depan kantor, tentu saja sembari mengayunkan langkah menuju kos.
Iseng, karena aku mendapat informasi bahwa kemacetan di hari Jumat sore bisa sampai jam 11 malam. Luar biasa, dan inilah hasil jepretanku dari kamera VGA berresolusi rendah.

Selang beberapa saat, hujan pun turun. Kebetulan ada halte yang beratap. Berteduh sambil terus mengamati jalan raya.

Gimana rasanya kena macet terus kehujanan?
Air mulai menggenangi jalanan yang katanya salah satu jalan utama di Jakarta.

Tak perlu waktu lama untuk mengubah jalan menjadi selokan, cukup 30 menit saja.

Kok bisa ya, jalanan sebesar itu, di kota semodern ini, nggak ada lubang-lubang untuk mengalirkan air hujan ke selokan? Bahwa konsep-konsep air mengalir adalah pelajaran sekolah dasar, namun sepertinya para arsitek pembangunan jalan telah lupa.
Kejadian ini membuatku menyingkirkan ide untuk memboyong sepeda motor dari kampung. Kemarin ada teman yang melontarkan gagasan untuk beralih ke sepeda onthel. Hmmm…. menarik
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, termasuk diriku tentunya. Saat mulai mengembangbiakkan adenium hampir setahun yang lalu, aku tak pernah menyangka bahwa banjir 1 hari mampu melenyapkan kerja keras dan biaya mahal yang telah kukeluarkan selama ini hanya untuk membeli medium dan pot.
Continue Reading »
Jeh, baru kali ini hidup di tengah-tengah air. Air kotor! Semarang banjir! Tlogosari banjir!!!
Hari Minggu jam 4 pagi aku dibangunkan ayahku agar bersiaga demi air yang siap menyergap rumah kami. Ketinggian air sudah mintip-mintip, sedikit di bawah tanggul kecil di pintu depan, sementara hujan deras terus saja turun. Setelah beberapa saat mulai muncul genangan air, tetapi bukan dari pintu melainkan dari bagian belakang rumah. Ternyata ada mata-mata air kecil yang keluar dari celah-celah tegel. Ayahku pun menginstruksikanku untuk mencari sumbernya dan menutupnya dengan malam (lilin permainan) warna-warni. Perburuan dimulai! Sambil jongkok dan nungging-nungging, berbekal senter dan malam, aku memburu sumber air. Setelah itu aku berusaha membuang air yang menggenang dengan serokan, mirip awak perahu yang membuang air dari perahu bocor agar tidak tenggelam.
Continue Reading »