<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog of Dimaz &#187; banjir</title>
	<atom:link href="http://dimaz.web.id/tag/banjir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dimaz.web.id</link>
	<description>The story of my mind</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 10:56:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Antara Kantor Pajak dan Mega Kuningan</title>
		<link>http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/</link>
		<comments>http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 14:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brainstorming]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[catastrophe]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[gayus tambunan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jw marriott]]></category>
		<category><![CDATA[kaltim prima coal]]></category>
		<category><![CDATA[kantor pajak]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kos]]></category>
		<category><![CDATA[kos-kosan]]></category>
		<category><![CDATA[kpc]]></category>
		<category><![CDATA[kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[mega kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[menara global]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[pak abu]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[proletar]]></category>
		<category><![CDATA[remote area]]></category>
		<category><![CDATA[ritz carlton]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[suharto]]></category>
		<category><![CDATA[utopia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/</guid>
		<description><![CDATA[Kantor pajak, belakangan ini jadi topik favorit industri media. Entah itu dikaitkan dengan salah satu anak emasnya, Gayus Tambunan, atau yang baru-baru ini mencuat kembali, perseteruannya dengan PT KPC, maupun acara bantah-bantahannya dengan DPR. Pokoknya kalau lewat gedung yang kalau malam bak istana bermahkota cahaya biru itu, orang mesti menengok barang sebentar. Mega Kuningan, tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kantor pajak, belakangan ini jadi topik favorit industri media. Entah itu dikaitkan dengan salah satu anak emasnya, Gayus Tambunan, atau yang baru-baru ini mencuat kembali, perseteruannya dengan PT KPC, maupun acara bantah-bantahannya dengan DPR. Pokoknya kalau lewat gedung yang kalau malam bak istana bermahkota cahaya biru itu, orang mesti menengok barang sebentar.<br />
Mega Kuningan, tentu saja tak pernah hilang dari ingatan kita bahwa daerah ini nyaris selalu jadi target utama teroris yang suka ngebom itu. JW Marriott dan Ritz Carlton adalah 2 hotel mewah yang nongkrong di daerah ini, selain banyak gedung pencakar langit mewah lainnya.</p>
<p>Kedua daerah di atas, kantor pajak dan mega kuningan, adalah daerah yang mewah. Amat mewah. Namun di antaranya ada sebuah daerah yang terlupakan.<br />
Tepat di belakang Menara Global, terus ke belakang sebelum mencapai mega kuningan, adalah rumah-rumah sederhana. Memang ada beberapa rumah mewah, tapi itu untuk disewakan. Kita bisa dengan mudah membedakan mana rumah penduduk dan mana rumah yang bukan. Sedikit masuk ke dalam, itulah wilayah kosku.<br />
<span id="more-1045"></span><br />
Aku masih beruntung, setiap kali hujan kosku ini tak diterjang banjir. Tapi lain halnya dengan kampung di belakang dan samping yang berbatasan dengan tembok kos-kosan.<br />
Setiap kali hujan, entah itu hujan besar maupun hujan kecil, kampung ini selalu terendam banjir. Terlihat bekas peninggian tanah hingga mencapai batas maksimal, membuat rumah-rumah ini mirip rumah hobbit &#8211; atapnya amat pendek. Pun di depan masing-masing pintu dibangun tembok penahan air agar tidak masuk rumah. Banjir terakhir kemarin, air sempat menggenang hingga selutut orang dewasa &#8211; kebetulan aku lewat kampung ini, tepat selututku.</p>
<p>Kemarin aku melihat sebuah rumah tepat di sebelah SD yang penghuninya sedang memberesi barang-barangnya dan menaikkannya ke atas mobil pikap layaknya hendak pindahan rumah, dan hari ini rumah itu kosong.<br />
Kebetulan sore ini aku bertemu dengan mas Rizal dan mas Mukmin, penjaga malam kosku, dan terjawablah segala pertanyaanku tentang daerah ini.</p>
<p>Sebelum ini aku pernah membuat tulisan tentang keherananku akan perbedaan yang amat signifikan antara gedung-gedung bertingkat di pinggir jalan dan pemukiman kumuh di belakangnya. Ternyata pemukiman ini adalah sisa-sisa dari penggusuran yang terjadi sejak zaman Soeharto, begitu kata mas Rizal.<br />
Limapuluh hektar kampung telah tergusur demi proyek mega kuningan yang sekarang ini telah terbangun gedung-gedung mewah. Dan satu demi satu kontraktor akan mencaplok tanah di sini, dengan atau tanpa paksaan.<br />
Banjir, itu disebabkan aliran air yang ke arah mega kuningan diblokir oleh timbunan tanah setinggi atap rumah. Ditambah lagi, timbunan tersebut sudah lama mangkrak dan ditumbuhi alang-alang, menurut mas Rizal sudah banyak ular dan binatang pembawa penyakit lain yang menghuninya.<br />
Dengan faktor-faktor itu, secara otomatis para penduduk akan pindah karena tidak kerasan dan rumahnya akan dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Maka, pihak penguasa akan mereguk untung yang amat besar dari penguasaan tanah di daerah ini.</p>
<p>Lebih lagi, daerah ini sudah dipetakan menjadi kawasan elit. Segala bangunan yang tidak berlantai 3 pada akhirnya akan digusur, termasuk kosku, walau entah kapan. Pelan, namun pasti. Speechless, aku berjalan gontai menuju kamar kosku.</p>
<p>Aku mengabarkan ini, biar seluruh dunia tahu, uang si kaya telah merenggut kehidupan para miskin. Reformasi tampaknya tak pernah bisa menghapus sistem menetes ke bawah yang digagas Suharto dan kroni-kroninya. Apanya yang menetes ke bawah? Banjirnya? Tai-tainya? Sampahnya?<br />
Sementara para pemilik gedung berkelas di mega kuningan ini leyeh-leyeh di peraduannya, para proletar di sini bertarung melawan air, meringkuk menggigil di antara lumpur dan air yang menghitam.<br />
Bagaimana kami tidak menganggap para pengusaha adalah para penjahat, pak Abu? Bukankah Anda sendiri telah lari dari tanggungjawab Anda sebagai pengusaha? Bukankah Anda telah menelantarkan mereka yang merasakan catastrophe dari kesalahan yang dibuat perusahaan Anda?</p>
<p>Sampai kapan. Sampai kapan penduduk ini akan hidup seperti ini? Aku ingat, nyaris setiap hari seorang anak yang barangkali umurnya tak lebih dari 2 tahun, kujumpai sedang tidur di bangku pinggir jalan yang kebetulan selalu kulewati ketika hendak berangkat kerja. Pasti rumahnya satu di antara rumah-rumah liliput ini. Jika tidak, tentu orangtuanya tak akan membiarkannya tergeletak di bangku. Padahal tak jauh darinya ada selokan yang airnya tak pernah mengalir.</p>
<p>Mengenaskan bukan?</p>
<p>Ini bukan di daerah terpencil. Ini bukan remote area, kak Ben. Ini Jakarta. Tempatmu ingin meluncurkan album nyata-nyata bukan utopia.</p>
<p>Aku kembali pada kenyataan. Barangkali aku tak mampu berbuat apa-apa. Tetapi ketika berangkat tidur nanti, akan kuselipkan doa bagi mereka. Semoga hujan tak turun malam ini, semoga nyamuk pembawa penyakit tak mampir ke ranjang mereka, semoga.<br />
Semoga tidak benar, kata-kata seorang kolegaku : negara ini sudah rusak. Tidak, semoga tidak.</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div><div class="al2fb_comments_plugin"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:comments num_posts="2" width="450" colorscheme="light" href="http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/"></fb:comments></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimaz.web.id/side-stories/brainstorming/antara-kantor-pajak-dan-mega-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Dunia</title>
		<link>http://dimaz.web.id/side-stories/dua-dunia/</link>
		<comments>http://dimaz.web.id/side-stories/dua-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 13:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Side Stories]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[kumuh]]></category>
		<category><![CDATA[perkampungan]]></category>
		<category><![CDATA[perkantoran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dim.tlogosari.net/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat perbedaan yang amat kontras antara kompleks perkantoran dengan perkampungan yang sejatinya bertetangga. Sementara si perkantoran mampu bersolek dengan indahnya, lain halnya dengan si perkampungan yang serba seadanya: sempit, kumuh, dan selalu kebanjiran. Pertanyaannya: ke mana kapital sebesar itu pergi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/38206548@N03/4096718132/" title="kesenjangan sosial by sonic_skye, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2576/4096718132_3a3dfdd127.jpg" width="375" height="500" alt="kesenjangan sosial" /></a></p>
<p>Terdapat perbedaan yang amat kontras antara kompleks perkantoran dengan perkampungan yang sejatinya bertetangga. Sementara si perkantoran mampu bersolek dengan indahnya, lain halnya dengan si perkampungan yang serba seadanya: sempit, kumuh, dan selalu kebanjiran.</p>
<p>Pertanyaannya: ke mana kapital sebesar itu pergi?</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://dimaz.web.id/side-stories/dua-dunia/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div><div class="al2fb_comments_plugin"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:comments num_posts="2" width="450" colorscheme="light" href="http://dimaz.web.id/side-stories/dua-dunia/"></fb:comments></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimaz.web.id/side-stories/dua-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kena Macet, Kehujanan, Trus Kebanjiran</title>
		<link>http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/</link>
		<comments>http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Side Stories]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[macet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dim.tlogosari.net/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat kemarin kebetulan muncul keisenganku untuk sejenak mengamati lalulintas di depan kantor, tentu saja sembari mengayunkan langkah menuju kos. Iseng, karena aku mendapat informasi bahwa kemacetan di hari Jumat sore bisa sampai jam 11 malam. Luar biasa, dan inilah hasil jepretanku dari kamera VGA berresolusi rendah. Selang beberapa saat, hujan pun turun. Kebetulan ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat kemarin kebetulan muncul keisenganku untuk sejenak mengamati lalulintas di depan kantor, tentu saja sembari mengayunkan langkah menuju kos.<br />
Iseng, karena aku mendapat informasi bahwa kemacetan di hari Jumat sore bisa sampai jam 11 malam. Luar biasa, dan inilah hasil jepretanku dari kamera VGA berresolusi rendah.</p>
<p><a title="macet1 by sonic_skye, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/38206548@N03/4084737909/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2792/4084737909_5d1ce2822d.jpg" alt="macet1" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Selang beberapa saat, hujan pun turun. Kebetulan ada halte yang beratap. Berteduh sambil terus mengamati jalan raya.<br />
<a title="macet2 by sonic_skye, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/38206548@N03/4084737315/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2633/4084737315_8fa3c67f45.jpg" alt="macet2" width="500" height="375" /></a><br />
Gimana rasanya kena macet terus kehujanan?</p>
<p>Air mulai menggenangi jalanan yang katanya salah satu jalan utama di Jakarta.<br />
<a title="macet3 by sonic_skye, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/38206548@N03/4084736231/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2497/4084736231_03f0d15076.jpg" alt="macet3" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Tak perlu waktu lama untuk mengubah jalan menjadi selokan, cukup 30 menit saja.<br />
<a title="macet4 by sonic_skye, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/38206548@N03/4085494310/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2572/4085494310_d6898ac651.jpg" alt="macet4" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Kok bisa ya, jalanan sebesar itu, di kota semodern ini, nggak ada lubang-lubang untuk mengalirkan air hujan ke selokan? Bahwa konsep-konsep air mengalir adalah pelajaran sekolah dasar, namun sepertinya para arsitek pembangunan jalan telah lupa.</p>
<p>Kejadian ini membuatku menyingkirkan ide untuk memboyong sepeda motor dari kampung. Kemarin ada teman yang melontarkan gagasan untuk beralih ke sepeda <em>onthel</em>. Hmmm&#8230;. menarik <img src='http://dimaz.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/" title="orang yang lagi kehujanan">orang yang lagi kehujanan</a> (2)</li></ul><div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div><div class="al2fb_comments_plugin"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:comments num_posts="2" width="450" colorscheme="light" href="http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/"></fb:comments></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimaz.web.id/side-stories/kena-macet-kehujanan-trus-kebanjiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goodbye My Adenium</title>
		<link>http://dimaz.web.id/side-stories/goodbye-my-adenium/</link>
		<comments>http://dimaz.web.id/side-stories/goodbye-my-adenium/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 02:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Side Stories]]></category>
		<category><![CDATA[adenium]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bibit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dim.tlogosari.net/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, termasuk diriku tentunya. Saat mulai mengembangbiakkan adenium hampir setahun yang lalu, aku tak pernah menyangka bahwa banjir 1 hari mampu melenyapkan kerja keras dan biaya mahal yang telah kukeluarkan selama ini hanya untuk membeli medium dan pot. Seluruh bibit adenium yang kutanam punah ditenggelamkan banjir. Sekarang semuanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, termasuk diriku tentunya. Saat mulai mengembangbiakkan adenium hampir setahun yang lalu, aku tak pernah menyangka bahwa banjir 1 hari mampu melenyapkan kerja keras dan biaya mahal yang telah kukeluarkan selama ini hanya untuk membeli medium dan pot.<br />
<span id="more-210"></span><br />
Seluruh bibit adenium yang kutanam punah ditenggelamkan banjir. Sekarang semuanya layu, sedih aku melihatnya.<br />
Aku sendiri yang mengembangbiakkan adenium ini mulai dari penyerbukan, pemupukan, pembibitan, hingga pemindahan ke pot-pot kecil, dan semuanya tampak sia-sia. Sekarang adenium-adenium kecilku layu dan mulai mengering. Tak ada yang bisa kulakukan karena air banjir kemarin mengandung bensin dan oli dari bengkel tetangga yang tentunya meracuni tanamanku yang terendam seluruhnya.</p>
<p>Sekarang yang tinggal hanya graftingan ayahku yang setidaknya menjadi hiburan dan kenangan sisa-sisa perjuangan kala aku jatuh cinta pada tanaman ini.</p>
<p>Aku sedang tak berniat membicarakan adenium saat ini&#8230;.</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://dimaz.web.id/side-stories/goodbye-my-adenium/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div><div class="al2fb_comments_plugin"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:comments num_posts="2" width="450" colorscheme="light" href="http://dimaz.web.id/side-stories/goodbye-my-adenium/"></fb:comments></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimaz.web.id/side-stories/goodbye-my-adenium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korban Banjir Aku</title>
		<link>http://dimaz.web.id/side-stories/korban-banjir-aku/</link>
		<comments>http://dimaz.web.id/side-stories/korban-banjir-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 09:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Side Stories]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Tlogosari banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dim.tlogosari.net/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Jeh, baru kali ini hidup di tengah-tengah air. Air kotor! Semarang banjir! Tlogosari banjir!!! Hari Minggu jam 4 pagi aku dibangunkan ayahku agar bersiaga demi air yang siap menyergap rumah kami. Ketinggian air sudah mintip-mintip, sedikit di bawah tanggul kecil di pintu depan, sementara hujan deras terus saja turun. Setelah beberapa saat mulai muncul genangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jeh, baru kali ini hidup di tengah-tengah air. Air kotor! Semarang banjir! Tlogosari banjir!!!</p>
<p>Hari Minggu jam 4 pagi aku dibangunkan ayahku agar bersiaga demi air yang siap menyergap rumah kami. Ketinggian air sudah mintip-mintip, sedikit di bawah tanggul kecil di pintu depan, sementara hujan deras terus saja turun. Setelah beberapa saat mulai muncul genangan air, tetapi bukan dari pintu melainkan dari bagian belakang rumah. Ternyata ada mata-mata air kecil yang keluar dari celah-celah tegel. Ayahku pun menginstruksikanku untuk mencari sumbernya dan menutupnya dengan malam (lilin permainan) warna-warni. Perburuan dimulai! Sambil jongkok dan nungging-nungging, berbekal senter dan malam, aku memburu sumber air. Setelah itu aku berusaha membuang air yang menggenang dengan serokan, mirip awak perahu yang membuang air dari perahu bocor agar tidak tenggelam.<br />
<span id="more-183"></span><br />
Namun itu tak bertahan lama. Sekitar sejam kemudian, air melompati tanggul depan dan tanpa permisi mengajak teman-temannya masuk rumah dan menggenanginya. Tak ada lagi yang bisa kulakukan, karena penahan kayu di atas tanggul itu bobol. Sigap aku mengungsikan barang-barang berhargaku : baju-baju, sepatu, tas, printer, dan kabel-kabel komputer.<br />
Pagi itu air menimbun lantai rumah setinggi 16 cm, dan terus naik. Lelah, aku beristirahat di lantai atas. Tak bisa berangkat ke Gereja.</p>
<p>Hari sudah agak siang, ketinggian air mencapai 20 senti. FYI, aku mengukur ketinggian air ini menggunakan penggaris, jadi keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan <img src='http://dimaz.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ayahku keluar rumah untuk mengecek keadaan warung. Aku pun ikut keluar, dan kudapati bahwa jalanan di depan gang rumah terisi air setinggi 40 cm! Pun di sana-sini banyak kendaraan bermotor termasuk mobil mogok karena mesinnya kena air. Tak hanya itu, banyak orang juga tercebur ke sungai dan selokan karena batas jalan dan selokan sama sekali tak kelihatan. Airnya sungguh keruh. Suatu kejadian langka kurasa.<br />
Kakiku yang sudah terasa pedih karena tersaruk-saruk kerikil kuseret pulang. Tiduran dan membaca diktat, hanya itu kegiatanku hingga malam tiba. Makanan pun jadi sesuatu yang langka, tapi untunglah kami masih bisa makan seadanya.<br />
Aku menghibur diriku dengan memburu ikan-ikan sepat yang ikut menyambangi rumahku. Namun sayang, tak satupun ikan berhasil kutangkap. Tak ada bakat cari ikan rupanya.</p>
<p>Jam 9 malam, saatnya menonton pertandingan Catania &#8211; Juventus. Ah, untung listrik masih menyala. Air pun rupanya telah sedikit surut, dan kami pun segera mengusahakan semua yang bisa untuk menghalau air dari rumah. Hambatannya adalah air yang keluar dari celah-celah lantai makin banyak dan deras. Ya sudahlah, ditambal sebisanya.<br />
Untung Juve menang, aku pun terus bersemangat hingga tenagaku habis tepat pukul 1 dini hari, hari Senin. Lelah, aku tidur.</p>
<p>Pagi ini aku memutuskan tak berangkat ke Pekalongan, bolos magang karena pertimbangan genangan banjir yang masih melanda beberapa daerah di Semarang, dan dari informasi kudapati bahwa kemacetan parah terjadi di Kendal. Ya sudahlah, force majeur begini tak bisa disalahkan.<br />
Ketika air benar-benar surut (kecuali yang keluar dari celah lantai yang masih terjadi sampai sekarang), tinggallah kotoran yang ternyata berbau amis. Arrgghhh&#8230;. kerja bakti lagi deh T_T</p>
<div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://dimaz.web.id/side-stories/korban-banjir-aku/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="arial" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div><div class="al2fb_comments_plugin"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=290579107645395&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:comments num_posts="2" width="450" colorscheme="light" href="http://dimaz.web.id/side-stories/korban-banjir-aku/"></fb:comments></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimaz.web.id/side-stories/korban-banjir-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

