
[dimaz.web.id]
Awalnya aku mau mengkritik habis film ini, tapi tak apalah membuat ulasan sedikit.
Firasatku benar ketika melihat judul yang ber-font merah dengan latar belakang hitam. Mirip seperti judul film-film horor yang sekarang ini mulai marak lagi. Pada kenyataannya, film ini mengekspos kekerasan dan kata-kata kotor dari awal hingga klimaks.
Anjing, tai, monyet, ketiga kata itu sering muncul di film ini. Not good for children, eh? Belum lagi pertempuran berdarah yang terlalu banyak dan sepertinya membuat cerita jadi garing. Yuda (dalam bahasa Jawa, kata Yuda artinya perang), bertempur melawan musuh sedari pagi hingga petang dengan Jakarta sebagai Kurusetra, demi menghabisi begundal-begundal anak buah Joni.
Makna yang kutangkap dari film ini adalah, jika Anda merantau ke Jakarta, bersiap-siaplah mati ditikam orang bule pelaku human trafficking!
Baiklah, meski begitu aku masih menikmati sedikit skrinsut lingkungan pedesaan yang masih asri, gambaran keluarga yang ditinggal merantau, perjuangan para perantau, dan bagaimana perantauan itu seringkali membawa hasil yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Pukul 21:34 malam, aku teringat masa-masa dimulainya perantauanku pada 2003, hingga kini cerita merantau versiku belum usai.




