Kantor pajak, belakangan ini jadi topik favorit industri media. Entah itu dikaitkan dengan salah satu anak emasnya, Gayus Tambunan, atau yang baru-baru ini mencuat kembali, perseteruannya dengan PT KPC, maupun acara bantah-bantahannya dengan DPR. Pokoknya kalau lewat gedung yang kalau malam bak istana bermahkota cahaya biru itu, orang mesti menengok barang sebentar.
Mega Kuningan, tentu saja tak pernah hilang dari ingatan kita bahwa daerah ini nyaris selalu jadi target utama teroris yang suka ngebom itu. JW Marriott dan Ritz Carlton adalah 2 hotel mewah yang nongkrong di daerah ini, selain banyak gedung pencakar langit mewah lainnya.
Kedua daerah di atas, kantor pajak dan mega kuningan, adalah daerah yang mewah. Amat mewah. Namun di antaranya ada sebuah daerah yang terlupakan.
Tepat di belakang Menara Global, terus ke belakang sebelum mencapai mega kuningan, adalah rumah-rumah sederhana. Memang ada beberapa rumah mewah, tapi itu untuk disewakan. Kita bisa dengan mudah membedakan mana rumah penduduk dan mana rumah yang bukan. Sedikit masuk ke dalam, itulah wilayah kosku.
Continue Reading »
Written on 30 May 2010
by admin under
Brainstorming
with
Tagged with banjir, catastrophe, DPR, gayus tambunan, Indonesia, Jakarta, jw marriott, kaltim prima coal, kantor pajak, kapitalisme, kos, kos-kosan, kpc, kuningan, mega kuningan, menara global, miskin, negara, pak abu, penyakit, proletar, remote area, ritz carlton, soeharto, suharto, utopia
Baru saja menemukan hal yang janggal di banner ini:

Pajak = kemewahan pejabat?
Setahuku tanda “=” menunjukkan persamaan, ekual, kesetaraan. Lantas, frase di atas itu apanya yang sama?
Pajak adalah kemewahan pejabat? Lho kok bisa? Lha setauku pajak itu buat membiayai APBN, anggaran pendapatan dan belanja negara. Kalau mau tau APBN silakan ngubek-ubek situs Kemenkeu dan direktorat jenderalnya. Pajak itu pos penerimaan, sedang kemewahan pejabat yang di sini itu pengeluaran. Lantas, persamaannya di mana?
Boikot pajak itu ya kurang bener to. Toh nggak semua anggaran buat “foya-foya” pejabat yang Anda pilih sendiri via pemilu 5 tahunan. Kalau mau nyalahin anggaran, ya sana demo di senayan!
Pajak itu juga buat bayarin subsidi bensin dan listrik. Coba subsidi bensin + listrik dicabut gara-gara nggak ada pajak, sampeyan demo nggak? Nah, daripada demo 2 kali, enak 1 kali aja toh? Hehehe, sori becanda. Nggak usah demo di senayan, bikin macet. Demo di laut aja, skalian ngasi makan hiu. Huehehe. Sori becanda lagi.